Monday, 22 December 2008

lembar empat

Abdi Abad nan Abadi


tersebutlah nama di pucuk pohon cemara, di penggalan kata-kata, di setiap nada doa. dialah sang sirna yang memuja sukma, tanpa tanya, penuh makna. negri pantai yang terlupakan mulai melemah dalam deburan mamiri nyiur menyapa. nama di pucuk pohon cemara tergoyah senja, lalu jatuh menghanyut laut lepas.

dan kini, sendiri semua... tanpa bidadari samudra menemani, karena diculik oleh perompak yang berlari-lari-an tanpa henti... kemanakah segala dunia penjuru langit dan bumi mengungsi? adakah sang surya dan candra menemani?

aku masih tersadar di sini, mencoba menghilangkan derita sepi, sendiri, tanpa arti...