Abdi Abad nan Abadi
tersebutlah nama di pucuk pohon cemara, di penggalan kata-kata, di setiap nada doa. dialah sang sirna yang memuja sukma, tanpa tanya, penuh makna. negri pantai yang terlupakan mulai melemah dalam deburan mamiri nyiur menyapa. nama di pucuk pohon cemara tergoyah senja, lalu jatuh menghanyut laut lepas.
dan kini, sendiri semua... tanpa bidadari samudra menemani, karena diculik oleh perompak yang berlari-lari-an tanpa henti... kemanakah segala dunia penjuru langit dan bumi mengungsi? adakah sang surya dan candra menemani?
aku masih tersadar di sini, mencoba menghilangkan derita sepi, sendiri, tanpa arti...
Monday, 22 December 2008
Saturday, 4 October 2008
lembar tiga
-kemarinsore,
2 Sept 08-
Paradoks dalam hidup manusia selalu diikuti dillema, sampai sejauh mana aliran nasib menghanyutkan buah simalakama. Antara keinginan & senyum. Diapit kebosanan & adiksi. Ditengah keniscayaan & mustahil. Sampai kapankah jenuhnya awan-awan dan bintang menjadi rebutan dedara-dari Sang Waktu. Hingga gerhana menentramkan relung-relung roh yang sepi hingga bertemu di nirwana Sang Durga nanti.
2 Sept 08-
Paradoks dalam hidup manusia selalu diikuti dillema, sampai sejauh mana aliran nasib menghanyutkan buah simalakama. Antara keinginan & senyum. Diapit kebosanan & adiksi. Ditengah keniscayaan & mustahil. Sampai kapankah jenuhnya awan-awan dan bintang menjadi rebutan dedara-dari Sang Waktu. Hingga gerhana menentramkan relung-relung roh yang sepi hingga bertemu di nirwana Sang Durga nanti.
lembar dua
1.
Di pagi yang terlambat matahari pada sebuah kamp konsentrasi. Tergolek tubuh lemah lunglai hasil pergulatan hidup semalam, sebuah perjuangan tanpa henti, melawan pikiran dan hati.
Tersibaklah gelombang lautan hitam pada sebuah wajah, mentasbihkan sehelai senyum, milik seorang manusia, yang tak ingin atau hendak disebut namanya baik sebagai ia atau dia. Meniadakan objektivikasi itu sendiri. Mencoba untuk memerdekakan diri dari belenggu masa lalu...
2.
Jiwanya yang kosong telah terampas dari benang merah cemburu dan cinta, demi pertahankan kepada siapa manusia harus percaya, dirinyakah sendiri, atau buaian lamunan mimpi?
Terhanyutlah sang manusia dipelukan awan yang hendak lari dari kenyataan, bahwa angin akan meregangkan nyawanya, penuh siksa, nista, tak berkesudahan seakan dijemput neraka.
3.
Kemanakah perginya surga, ketika diri terasa tiada lagi makna? Saat ujaran tak mampu lagi tertutur, semasa ketika aksara sudah kehilangan pengaruhnya, dan sesaat sadar bahwa manusia menemukannya diantara bebatuan jingga yang daripadanya terpercik sinar cahaya magenta.
Azuri di langit dan lautan semakin larut dalam kromatiknya cakrawala vertikal, hubungkan palung terdalam hingga khayangan mayapada, nirwana keabadian, sebuah tempat yang selalu ada dalam igauan.
4.
jauh di sudut tanah akar rerumputan, di mana nyiur tegak tak terbantahkan mamiri, pulau benua tak kenal bencana, tak bertemu gempa, serta tak bertegur sapa dengan mala petaka. Terlalu sempurna untuk sebuah kehancuran awal; lokalisasi kaum fakir nan kafir.
Hingga akhirnya mereka dipertemukan, sang manusia dengan masyarakatnya, sebuah dilema terbesar yang pernah lahir ke dunia, sepucuk benih hampa. Perubahan.
Di pagi yang terlambat matahari pada sebuah kamp konsentrasi. Tergolek tubuh lemah lunglai hasil pergulatan hidup semalam, sebuah perjuangan tanpa henti, melawan pikiran dan hati.
Tersibaklah gelombang lautan hitam pada sebuah wajah, mentasbihkan sehelai senyum, milik seorang manusia, yang tak ingin atau hendak disebut namanya baik sebagai ia atau dia. Meniadakan objektivikasi itu sendiri. Mencoba untuk memerdekakan diri dari belenggu masa lalu...
2.
Jiwanya yang kosong telah terampas dari benang merah cemburu dan cinta, demi pertahankan kepada siapa manusia harus percaya, dirinyakah sendiri, atau buaian lamunan mimpi?
Terhanyutlah sang manusia dipelukan awan yang hendak lari dari kenyataan, bahwa angin akan meregangkan nyawanya, penuh siksa, nista, tak berkesudahan seakan dijemput neraka.
3.
Kemanakah perginya surga, ketika diri terasa tiada lagi makna? Saat ujaran tak mampu lagi tertutur, semasa ketika aksara sudah kehilangan pengaruhnya, dan sesaat sadar bahwa manusia menemukannya diantara bebatuan jingga yang daripadanya terpercik sinar cahaya magenta.
Azuri di langit dan lautan semakin larut dalam kromatiknya cakrawala vertikal, hubungkan palung terdalam hingga khayangan mayapada, nirwana keabadian, sebuah tempat yang selalu ada dalam igauan.
4.
jauh di sudut tanah akar rerumputan, di mana nyiur tegak tak terbantahkan mamiri, pulau benua tak kenal bencana, tak bertemu gempa, serta tak bertegur sapa dengan mala petaka. Terlalu sempurna untuk sebuah kehancuran awal; lokalisasi kaum fakir nan kafir.
Hingga akhirnya mereka dipertemukan, sang manusia dengan masyarakatnya, sebuah dilema terbesar yang pernah lahir ke dunia, sepucuk benih hampa. Perubahan.
lembar satu
Hingga waktu memahami dirinya, bahwa ia hanyalah ilusi dari bayangan ruang gerak manusia yang sempit nan semu. Ia hanyalah perluasan dari kata, termanifestasi dalam kuasa, hingga hilang terbang membawa untaian asa...
-kemarinsore,
jogjakartahadiningrat
30 Sept 2008-
-kemarinsore,
jogjakartahadiningrat
30 Sept 2008-
Subscribe to:
Posts (Atom)
