-kemarinsore,
2 Sept 08-
Paradoks dalam hidup manusia selalu diikuti dillema, sampai sejauh mana aliran nasib menghanyutkan buah simalakama. Antara keinginan & senyum. Diapit kebosanan & adiksi. Ditengah keniscayaan & mustahil. Sampai kapankah jenuhnya awan-awan dan bintang menjadi rebutan dedara-dari Sang Waktu. Hingga gerhana menentramkan relung-relung roh yang sepi hingga bertemu di nirwana Sang Durga nanti.
Saturday, 4 October 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment