Saturday, 4 October 2008

lembar tiga

-kemarinsore,
2 Sept 08-

Paradoks dalam hidup manusia selalu diikuti dillema, sampai sejauh mana aliran nasib menghanyutkan buah simalakama. Antara keinginan & senyum. Diapit kebosanan & adiksi. Ditengah keniscayaan & mustahil. Sampai kapankah jenuhnya awan-awan dan bintang menjadi rebutan dedara-dari Sang Waktu. Hingga gerhana menentramkan relung-relung roh yang sepi hingga bertemu di nirwana Sang Durga nanti.

No comments: